Menu


1. The Battle for the Bengkung
2. Gaining recognition for the  
    Leuser Ecosystem
3. Saving the Singkil Swamp
4. The Restoration of the
    Singkil-Bengkung Wildlife
    Corridor
  

 



YLI dan FFI Laksanakan Latihan Penyegaran Polhut Aceh di Jantho

Posted 10/02/2008

Yayasan Leuser Internasional (YLI) dan Fauna dan Flora Internasional (FFI) dalam Proyek Hutan dan Lingkungan Aceh (AFEP) yang didanai oleh Multi Donor Fund, melaksanakan kegiatan Pelatihan Penyegaran Polisi Kehutanan (Polhut) Aceh yang dilaksanakan di Jantho Aceh Besar, 10 – 17 Februari 2008.

Pelatihan ini diikuti 52 orang polhut yang berasal dari Dinas Kehutanan NAD, Balai Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) NAD, Dinas Kehutanan dari Aceh Besar, Aceh Jaya, Pidie, Pidie Jaya, Aceh Timur, Langsa, Aceh Tamiang dan Balai Taman Nasional Gunung Leuser (BTNGL).

Pelatihan telah dibuka Minggu pagi (10/2) di gedung diklat dinas kesehatan Jantho oleh Alfuadi dari Dinas Kehutanan NAD. Hadir dalam acara ini Direktur Support YLI Erwin Abubakar, Direktur Program YLI Yuswar Yunus, Direktur Program FFI Robert Sellevis, Perwakilan dari Multi Donor Fund Mikko Ollikainen, Kepala Pusat Pengendalian Lingkungan BRR NAD-Nias R. Pamekas, dan Kepala Dinas Kehutanan Aceh Besar Aidil.

Pelatihan ini merupakan pelatihan yang kedua dilaksanakan untuk polhut, dimana sebelumnya telah dilaksanakan pelatihan serupa di Tapaktuan untuk 43 orang polhut oleh YLI.

Direktur Support YLI Erwin Abubakar dalam sambutannya mengatakan, polhut memegang peranan penting dalam pengamanan hutan Aceh. Program AFEP yang kini dilaksanakan YLI dan FFI untuk kawasan ekosistem Leuser dan Ekosistem Ulu Masen, mendukung secara penuh upaya aparat penegak hukum dalam memberantas kegiatan illegal yang memicu kehancuran hutan Aceh.

Sementara itu Mikko Ollikainen dalam sambutannya menyebutkan, AFEP mendukung penuh upaya gubernur Irwandi Yusuf dalam upaya perlindungan hutan Aceh. Hutan Aceh tidak saja telah memberikan jasa-jasa lingkungan bagi masyarakat di sekitarnya, tapi juga menjadi paru-paru dunia, mengatur cuaca dan iklim global, mensuplai air bersih, mencegah banjir dan longsor dan menjadi habitat bagi ribuan species flora dan fauna.

"Hutan Aceh sampai sekarang masih bisa kita pertahankan kelestariannya, sementara di tempat lain di Indonesia banyak hutan tak bisa diselamatkan dari kehancuran," kata Mikko Ollikainen.

Namun bukan berarti hutan Aceh tak dalam ancaman serius. Maraknya illegal logging membuat gubernur menerapkan moratorium logging. Namun hal itu tentu saja tak akan dapat berjalan tanpa peran serta aparat penegak hukum yang kuat. Untuk itulah peranan polhut sangat diharapkan dalam mencegah kehancuran hutan Aceh.

Pelatihan polhut akan dilasanakan selama 8 hari. Para peserta yang umumnya berasal dari polhut kontrak yang baru direkrut Agustus 2007, akan mendapatkan materi pelatihan yang akan dipandu oleh staf YLI dan FFI serta pemateri dari Dinas Kehutanan, Fakultas MIPA Biologi Unsyiah, BKSDA, BTNGL, dsb.

Materi yang diberikan antara lain tentang penegakan hukum, peraturan perundangan tentang kehutanan, mendeteksi dan mendokumentasikan  kegiatan illegal, pengambilan data secara rahasia, pemetaan dan penggunaan alat, praktek navigasi, pengenalan jenis kayu dan satwa, konflik satwa, dan simulasi penanganan kasus.

Salah seorang peserta pelatihan Surya dari Polhut Pidie Jaya menyambut baik program pelatihan penyegaran ini, mengingat sejak direkrut jadi polhut dirinya baru sekali mendapatkan pelatihan dasar. Dia menyadari baru peranan polhut belum maksimal di lapangan.

"Selama ini kami terkendala operasional sehingga ruang gerak polhut menjadi terbatas,"katanya.

Untuk itu dia berharap pelatihan ini bisa meningakatkan peranan polhut dalam pengaman hutan Aceh. Adanya pertukaran informasi, dukungan operasional dan operasi bersama dengan pihak terkait lainnya akan memaksimalkan peranan polhut di kemudian hari.
             Copyrights 2007 by Ade Swandhana (Leuser International Foundation) All rights reserved                            Home | Contact Us