Posted 12/02/2008
Proyek Hutan dan
Lingkungan Aceh (Aceh Forest Environment Project) yang didanai oleh
Multi Donor Fund (MDF) melalui Bank Dunia, tahun 2008 ini berkomitmen
mengalokasikan dana sebesar Rp USD 1.473.609 untuk mendukung kebijakan
Aceh Green yang dicanangkan Gubernur Aceh.
Dalam pertemuan dengan
Gubernur Irwandi Yusuf, Asisten II Usman Budiman dan Kepala Dinas
Kehutanan Hanifah Affan, tim supervisi
World Bank
yang dipimpin Joe Leitmann di Kantor Gubernur
Banda Aceh, Selasa 12 Februari 2008,
menyatakan AFEP akan mendukung penuh berbagai kebijakan gubernur yang
bertujuan untuk melestarikan hutan Aceh.
Hadir dalam pertemuan
ini perwakilan dari MDF, tim supervisi
World Bank,
Yayasan Leuser Internasional (YLI) dan Flora dan Fauna Internasional (FFI).
Berikut daftar alokasi dana AFEP 2008 untuk mendukung kebijakan
gubernur.
|
KEBIJAKAN |
KEGIATAN AFEP |
TOTAL USD |
|
Redisain sektor
kehutanan |
Mendukung tim
teknis perencanaan konservasi, kelembagaan dan kerangka hukum |
273.160 |
|
Implementasi Visi "Aceh
Green" |
AFEP akan membeli
citra satelit dan meningkatkan keahlian tim GIS dan akan mendata
ke lapangan, yang difokuskan untuk hutan |
225.700 |
|
Peningkatan
kapasitan institusi pengaman hutan |
AFEP melaksanakan
pelatihan dan bantuan peralatan untuk polisi kehutanan
|
751.226 |
|
Mengembangkan
Strategi Pencegahan Konflik Manusia dan Satwa |
AFEP memberikan
bantuan tim teknis dan dana operasional |
196.000 |
|
Mendukung pendanaan
berkelanjutan dari pengelolaan hutan (pendanaan karbon
berdasarkan hutan, pembayaran atas jasa lingkungan, energi
alternatif dan ekotourisme |
Membangun dan
mempromosikan hutan Aceh dengan tujuan untuk pendanaan yang
berkelanjutan (proposal REDD, mikrohidro dsb) |
27.523 |
|
|
Total |
1.473.609 |
Dana ini diambil dari
21,15 persen total anggaran AFEP 2008 sebesar USD 6.965.397. Kegiatan
utama AFEP adalah monitoring kawasan hutan. Selain itu ada kegiatan
penyadaran, tata ruang dan pengembangan mata pencaharian.
Menurut Joe Lietmann,
AFEP sepenuhnya mendukung semua kebijakan Gubernur Irwandi yang
bertujuan untuk melestarikan hutan Aceh. "Ini salah satu proyek
konservasi terbesar yang ada di Indonesia," kata Joe Lietmann.
Program AFEP dikerjakan
oleh 2 institusi yakni YLI untuk Kawasan Ekosistem Leuser dan FFI untuk
kawasan Ulu Masen. Proyek ini telah berlangsung sejak 2005 dan akan
berakhir 2010.
Gubernur menyatakan
dukungannya secara penuh untuk AFEP. Bantuan dari lembaga donor untuk
kegiatan di bidang konservasi diharapkan lebih ditingkatkan lagi
mengingat persoalan mempertahankan agar hutan Aceh agar tetap lestari,
bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tapi negara luar juga
berkepentingan untuk mendukungnya. Hutan Aceh merupakan salah satu
paru-paru dunia yang harus dijaga bersama.
Namun Gubernur
mengingatkan bahwa masyarakat sekitar hutan harus diperhatikan
kesejahteraannya dan dilibatkan dalam pengamanan hutan. "Sebab selama
rakyat masih lapar perutnya, mereka akan terus memotong kayu di
hutan,"kata Gubernur.
Gubernur mengatakan
bahwa masyarakat yang harus diperhatikan adalah mereka yang rawan dan
potensial untuk melakukan perambahan hutan dan illegal logging. Untuk
itu dia meminta YLI, FFI dan Bank dunia berpikir bersama untuk mencari
pekerjaan alternatif bagi masyarakat agar mereka tidak merusak hutan.
Tim supervisi
World Bank
pada hari yang sama juga telah bertemu dengan Badan Pengelola Kawasan
Ekosistem Leuser (BPKEL) di
Banda Aceh,
Bupati Aceh Besar Bukhari Daud di kantor Bupati di Jantho, dan melakukan
peninjauan pelatihan penyegaran untuk polisi kehutanan yang sedang
dilaksanakan YLI dan FFI di Jantho. Tim mencari masukan tentang
pelaksanaan program AFEP yang telah berjalan selama ini.