Menu


1. The Battle for the Bengkung
2. Gaining recognition for the  
    Leuser Ecosystem
3. Saving the Singkil Swamp
4. The Restoration of the
    Singkil-Bengkung Wildlife
    Corridor
  

 



Banjir di Pantai Barat Selatan Akibat Perubahan Fungsi Lindung KEL

Posted 25/04/2008

Banjir yang terjadi di sepanjang pantai barat selatan Aceh 23-24 April 2008 diakibatkan berubahnya fungsi lindung Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) akibat pembalakan liar dan konversi hutan. Sepanjang tahun hutan-hutan di Aceh Barat, Nagan Raya, Abdya, Aceh Selatan, Subulussalam dan Singkil terus mengalami degradasi. Selama 2000-2005 tercatat wilayah ini telah kehilangan 90 ribu hektar hutan yang masuk dalam Kawasan Ekosistem Leuser.

Aceh Selatan tercatat paling tinggi laju kerusakan hutannya yakni mencapai 20.735 hektar. Disusul Abdya (19.327 hektar), Aceh Singkil dan Subulussalam (19.269 hektar), dan Aceh Barat (15.663 hektar), serta Nagan Raya (15.050 hektar).

Tekanan terhadap hutan KEL tidak dapat dicegah akibat perilaku masyarakat dan kebijakan pemerintah daerah yang salah dalam mengelola hutan. Pembukaan perkebunan sawit secara besar-besaran, perambahan hutan untuk menanam nilam, pengeringan rawa untuk pemukiman dan perkebunan, pertambangan ilegal serta pembalakan liar di dalam KEL menyebabkan kawasan ini kehilangan fungsi lindungnya.

Banjir besar yang terjadi di Kabupaten Nagan Raya, Aceh Barat Daya, Aceh Selatan dan Subulussalam merupakan bencana tahunan yang sudah biasa dialami masyarakat selama lima tahun terakhir. Namun banjir kali ini diluar kebiasaan, sebab biasanya datang antara bulan September hingga Januari.

Ancaman bencana ini semakin sering terjadi dan meluas akibat terjadi perubahan fungsi lindung Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) yang mengatur regulasi air di sepanjang daerah aliran sungai (DAS), mengontrol erosi dan bajir serta mengatur iklim lokal.

Menurut tim Mobile Patrol Unit (MPU) Yayasan Leuser Internasional, selama dua hari ini 6 DAS besar di Aceh Selatan dan Subulussalam meluap dan menyebabkan banjir, yakni DAS Krueng Kluet, DAS Bakongan, DAS Krueng Baro, dan Sungai Lae Rikit.

Di sepanjang DAS Krueng Kluet terjadi pembalakan liar dan perambahan hutan secara besar-besaran untuk perkebunan nilam. Di pinggiran sungai Kluet sejak Desa Sarah Baru, Menggamat sampai ke Kandang ratusan hektar hutan dirambah untuk penanaman nilam oleh masyarakat.

Di sekitar DAS Bakongan yakni Desa Seunebok Kranji, Desa Drien dan Bukit Gading sejak akhir 2007 dilakukan pembukaan hutan rawa gambut seluas 500 hektar untuk penanaman sawit proyek PIR bantuan Gubernur NAD. Pengeringan dan penimbunan rawa di kawasan ini berefek hutan rawa kehilangan fungsinya sebagai penampung air hujan.

Di sekitar DAS Krueng Baro perbatasan di Kecamatan Labuhan Haji Barat (Aceh Selatan dan Kecamatan Manggeng (Abdya) ditemukan pembalakan liar dan penambangan batu marmar secara ilegal. Sedang kawasan di sepanjang Sungai Lae Rikit Kecamatan Sultan Daulat Pemko Subulussalam telah dirambah untuk perkebunan sawit.

"Kita sangat kawatir dengan kondisi DAS yang terganggu akibat kegiatan ilegal," kata Direktur Program YLI Yuswar Yunus.

Kondisi yang sama terjadi di DAS yang ada di Abdya dan Nagan Raya. Bahkan di Abdya sejak 5 tahun terakhir 50 persen sungai-sungainya rusak parah akibat sedimentasi besar-besaran yang menimbun badan sungai. Akibatnya di musim kering air sungai tak mengalir dan tak cukup debitnya untuk mengaliri sawah-sawah masyarakat. Sedang saat hujan datang, air dari gunung dengan cepat mengalir ke pemukiman karena fungsi hutan di sepanjang aliran sungai telah rusak. Ada 7 sungai di Abdya yang mengalami pendangkalan parah yakni : Krueng Panto, Krueng Batee, Alu Pisang, Krueng Susoh, Krueng Tangan-Tangan, Krueng Manggeng, dan Krueng Babahrot.

 
           Copyrights 2007 by Ade Swandhana (Leuser International Foundation) All rights reserved                            Home | Contact Us