|
POTENSI
SUAKA MARGASATWA RAWA
SINGKIL
Hutan rawa
gambut merupakan hutan rawa yang tumbuh di atas tanah gambut
dengan kedalaman gambut paling sedikit 50 cm. Hutan rawa gambut
yang ada di Indonesia merupakan gabungan antara hutan gambut dan
hutan hujan tropis.
Hutan rawa
gambut sangatlah penting perannya sebagai daerah tangkapan air.
Hutan gambut dan hutan Melaleuca (kayu putih, kayu gelam)
yang luas dapat berperan sebagai tempat cadangan air alami yang
dapat menyerap dan menyimpan kelebihan air dari daerah-daerah
sekitarnya dan mengurangi resiko banjir. Hutan gambut juga
merupakan sumber daya alam yang dapat bersifat berkelanjutan
karena memiliki berbagai jenis kayu yang berharga misalnya
ramin, meranti, jelutung dan bintangur. Selain itu hutan rawa
gambut juga menghasilkan berbagai bahan jenis lain yang sangat
penting bagi masyarakat lokal misalnya rotan, resin, kayu yang
wangi (gaharu) dan juga berbagai buah-buahan termasuk durian.
Disamping
menyediakan berbagai hasil hutan dan berbagai jenis ikan, hutan
rawa gambut juga menjadi habitat berbagai jenis satwa langka
seperti Tapir (Tapirus indicus), harimau Sumatera
(Panthera tigris sumatrensis), dan lain lain.
Suaka
Margasatwa Rawa Singkil, merupakan salah satu kekayaan alam Aceh
Singkil yang begitu unik dan bernilai penting bagi kehidupan
makhluk hidup di sekitarnya termasuk manusia. Unik karena Suaka
Margasatwa Rawa Singkil memiliki berbagai jenis ekosistem dalam
satu kawasan. Hal ini sangat jarang ditemukan. Di seluruh dunia,
mungkin hanya ada beberapa kawasan yang seperti Suaka Margasatwa
Rawa Singkil. Bernilai penting karena merupakan sumber air,
pelindung dari bencana tsunami dan gelombang pasang serta
menunjang sektor perikanan masyarakat Aceh Singkil. Karena nilai
dan manfaatnya ini, maka Suaka Margasatwa Rawa Singkil perlu
dilindungi dan dilestarikan.
Sampai tahun 1992,
Rawa
Singkil merupakan kawasan hutan
rawa paling akhir yang
sepenuhnya masih utuh dan masih
tersisa di pantai barat
Sumatera (Giesen et al., 1992).
Kawasan ini telah ditunjuk sebagai Kawasan Pelesatarian Alam
berdasarkan Keputusan
Menteri Kehutanan No. 166/Kpts-II/1998 tentang
Perubahan
Fungsi
dan Penunjukkan
Kawasan
Hutan
Rawa
Singkil
Yang Terletak di Kabupaten Aceh Selatan Provinsi Daerah Istimewa
Aceh Seluas 102.500 Hektar Menjadi Kawasan Suaka Alam
dengan nama Suaka Margasatwa Rawa Singkil (SMRS).
Selain itu, Rawa Singkil juga merupakan bagian dari Kawasan
Ekosistem Leuser berdasarkan Keppres No. 33 tahun 1998. Dari
aspek hidrologis, Rawa Singkil memiliki fungsi yang penting
karena merupakan bagian dari DAS Alas yang menunjang kehidupan
masyarakat lokal dalam hal ketersediaan air, irigasi, pertanian
dan sumber protein (Unit Manajemen Leuser, 2002).
Kawasan ini merupakan perwakilan ekosistem lahan basah di hutan
hujan tropis dataran rendah dan bagian dari Ekosistem Leuser
serta menjadi habitat utama bagi satwa liar yang dilindungi dan
terancam punah secara global, seperti Harimau Sumatera,
Orangutan Sumatera, Gajah Sumatera dan Badak Sumatera.
Tingginya nilai konservasi
di
kawasan tersebut, menjadikan
kawasan ini telah disepakati oleh para pakar sebagai salah satu
Kawasan Kunci Keanekaragaman Hayati (key biodiversity area)
di Pulau Sumatera (Conservation International, 2007). Disamping
itu, kawasan konservasi ini memiliki peranan penting dalam
melindungi jasa lingkungan yang terkandung di dalamnya,
khususnya sebagai pelindung keseimbangan sistem tata air dan
gudang alam untuk penyimpanan karbon guna mitigasi dampak
pemanasan global. Selanjutnya,
salah satu upaya penting untuk mendukung
mempertahankan eksistensi,
peranan dan upaya
konservasi SMRS tersebut
adalah kajian tentang kandungan karbon serta potensi
pengembangan produk jasa lingkungan dari kawasan tersebut.
Hutan Rawa
Singkil merupakan kawasan hutan rawa pantai yang terletak di
daerah pantai barat Aceh. Kawasan ini memiliki bentuk seperti
botol di mana lehernya berujung pada bagian utara. Bagian
baratnya dibatasi oleh pantai pasir putih yang berbatasan dengan
Laut Hindia yang merupakan tempat perlindungan penyu. Sebelah
timur dan selatan berbatasan dengan Sungai Alas, sementara di
sebelah utara dibatasi oleh Sungai Trumon. Sampai beberapa waktu
yang lalu, bagian leher botol Rawa Singkil menghubungkannya
dengan kawasan hutan Kapur Sesak dan Bengkung dan membentuk
lorong alami (koridor) sebagai tempat lintas migrasi satwa besar
seperti rusa, beruang, harimau, orangutan, wau-wau dan
sebagainya. Koridor ini dikenal dengan nama Koridor Singkil
Bengkung (Leuser Development Programme, 1995).
Rawa Singkil
terbentuk setelah letusan Toba sekitar 75.000 tahun yang lalu.
Abu letusan ini (mungkin merupakan letusan vulkanik terbesar di
dunia yang pernah terjadi) membendung Sungai Alas yang
menyebabkan terbentuknya sebuah danau di tengah Lembah Alas.
Selanjutnya danau tersebut terbelah oleh Bukit Barisan di dekat
Muara Setulen. Limpahan endapan menyapu daerah lainnya melalui
aliran sungai baru yang berakhir di cekungan laut sebelah
selatan yang sekarang merupakan jalan raya antara Gelombang dan
Ladang Rimba. Selama lebih dari 15.000 tahun, hutan lebat tumbuh
di atas endapan dan lapisan gambut yang tebal, yang bagian
dasarnya merupakan tanah liat. Lapisan gambut di seluruh rawa
ini ketebalannya bervariasi di mana sekitar 68% mempunyai
kedalaman sedang (antara 0,5 - 2 meter) dan 32% yang benar-benar
dalam, yaitu lebih dari 2 meter (Darul et al., 1989
dalam Leuser Development Programme, 1995).
Karena
struktur geomorfologinya, Rawa Singkil merupakan sebuah mosaik
jenis-jenis vegetasi yang beragam. Kawasan ini memiliki
kubah-kubah gambut dengan ketebalan yang bervariasi,
tanggul-tanggul dan lembah-lembah alluvium, pantai bergelombang
dan padang yang lembab, dataran berlumpur, serta dasar laut yang
berteras-teras. Vegetasi tumbuhan yang ada merefleksikan mosaik
ini dalam bentuk hutan air tawar, hutan rawa gambut, hutan rawa,
hutan bakau dan hutan aliran sungai (Leuser Development
Programme, 1995).
Berdasarkan tipe vegetasi, Rawa Singkil dapat
dibedakan menjadi beberapa tipe ekosistem yaitu ekosistem
pantai, ekosistem hutan rawa, ekosistem sungai dan ekosistem
buatan.
Tipe
ekosistem ini dapat dijumpai sepanjang sungai utama yang
melintasi kawasan ini, yaitu Sungai Alas dan sungai-sungai kecil
yang berhulu di sungai ini. Hutan rawa memiliki fungsi yang
penting tidak hanya bagi masyarakat yang bermukim di sekitarnya
namun juga bagi masyarakat Aceh Singkil pada umumnya. Beberapa
jenis tumbuhan kayu dengan nilai ekonomi tinggi yang dapat
ditemukan dalam ekosistem hutan rawa di kawasan Rawa Singkil
antara lain kayu meranti, kayu kapur, keruing, damar laut, dan
medang. Masyarakat lokal memanfaatkan hutan rawa untuk berbagai
keperluan, kayunya untuk membuat perahu, rumah dan kayu bakar,
sebagai sumber tanaman obat dan lain-lain.
Hingga saat ini belum banyak studi dilakukan
mengenai keanekaragaman hayati yang terdapat di kawasan Suaka
Margasatwa Rawa Singkil. Namun berdasarkan studi pustaka dari
berbagai sumber tentang kawasan rawa di pantai barat Aceh, dan
pengamatan langsung di sekitar kawasan, dapat disimpulkan bahwa
nilai keanekaragaman hayati yang ada di Rawa Singkil cukup
tinggi.
Hutan Rawa Singkil memiliki kekayaan flora yang
bernilai biologis dan ekonomis tinggi. Data Dinas Kehutanan
kabupaten Aceh Singkil tahun 2004 menunjukkan bahwa jenis Kayu
Meranti, damar laut/semantok, Kapur, Kerwing, Lesi-lesi/Medang
adalah jenis-jenis kayu yang bernilai ekonomis tinggi dan
sebagian besar kayu-kayu ini berasal dari hutan di sekitar Rawa
singkil. Soerianegara (1996) juga menegasakan bahwa Hutan Rawa
juga kaya akan jenis-jenis pohon bernilai ekonomi tinggi seperti
Alstonia pneumatophora, Campnosperma macrophylla, Dyera
lowii, Pentapadon motleyi, Elaeocarpus littoralis, Palaquium
leicarpum, Shorea balangeran, Lophopethalum multinervium,dan
lain-lain.
Selain kekayaan floranya, jenis-jenis fauna yang
terdapat di kawasan Suaka Marga Satwa Rawa Singkil cukup
beragam. Setidaknya tiga spesies satwa Sumatra Endemik dan
terancam punah dapat ditemukan di kawasan ini. Yaitu, Orangutan
Sumatera (Pongo abelii), Harimau Sumatera (Panthera
tigris sumatrae) dan Gajah Sumatera (Elephas maximus
sumatranus) (van Schaik, 1999) (Whitten et al., 2000).
Khusus Orangutan Sumatera (Pongo abelii),
hasil analisis PHVA (Population and Habitat Viability
Assessment) menunjukkan bahwa Rawa Trumon-Singkil
memiliki populasi Orangutan sebanyak 1.500 ekor dan merupakan
satu dari tiga habitat Orangutan di Sumatera Utara dan Aceh yang
memiliki populasi lebih dari 1.000 ekor (Singleton et al.,
2004).
Selain Orangutan Sumatera (Pongo abelii),
primata lain yang dapat ditemui di kawasan Suaka Marga satwa
Rawa Singkil antara lain: beruk (Macaca nemestrina),
monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), Gibbon (Hylobates
sp) dan siamang (Symphalangus sp). Sedangkan jenis
mamalia lainnya yang juga dapat ditemui di kawasan hutan
Rawa
Singkil antara lain rusa (Cervus unicolor), kijang
(Muntiacus muntjak) dan babi hutan (Sus scrofa).
Beruang madu juga mungkin masih bisa ditemui di beberapa hutan
rawa, meskipun mungkin populasinya tidak sepadat dulu lagi (van
Schaik, 1999).
Sementara itu, hasil penelitian Wetland
International-Indonesia Program menunjukkan bahwa rawa Singkil
merupakan habitat bagi lebih kurang 40 spesies burung. Beberapa
spesies burung tersebut memiliki nilai konservasi tinggi seperti
sandang lawa (Ciconia stormi) yang tergolong satwa
lasngka, itik sayap putih (Cairina scutulata) dan bangau
tongtong (Leptoptilos javanicus) yang tergolong satwa
terancam menurut IUCN red list (1994).
Keaneragaman hayati di kawasan Rawa Singkil
merupakan potensi yang bisa diandalkan dibidang ekowisata.
Pesona alam dan keunikan Rawa Singkil merupakan objek dan daya
tarik tersendiri yang diminati para wisatawan dan peneliti dalam
menelusuri Kawasan Suaka Margasatwa Rawa Singkil.
(Abu Hanifah Lubis / YLI)
|