|
PENDIDIKAN LINGKUNGAN HIDUP
Kawasan Ekosistem
Leuser adalah
bagian dari wilayah Indo Malaya Barat
yang tingkat
keanekaragaman hayatinya
merupakan salah satu yang tertinggi di dunia setelah
Amazon di Brazil dan Zaire di Afrika. Sebagian besar wilayah kawasan
ini terdiri
dari hutan hujan tropis. Hutan hujan tropis
tersebut memberikan kontribusi yang sangat besar bagi kehidupan
masyarakat lokal, Indonesia dan dunia terutama dalam bentuk jasa ekologi
seperti penghasil oksigen, pengendali banjir dan tanah longsor serta
suplai air bagi pertanian, perikanan dan kebutuhan sehari-hari bagi
penduduk sekitarnya, selain juga sebagai sumber tanaman obat,
buah-buahan, dan hasil hutan non kayu lainnya. Berbagai upaya dilakukan
untuk menyelamatkan kawasan ini dari kerusakan akibat ulah manusia yang
tidak bertanggung jawab. Salah satunya adalah melalui jalur
Pendidikan Lingkungan Hidup karena cara ini dianggap sebagai salah
satu cara yang paling efektif untuk membentuk keluhuran budi
masyarakat terutama siswa sedini mungkin dalam berinteraksi dan
bertanggung jawab untuk melindungi alam lingkungannya.
Pendidikan Lingkungan Hidup
(PLH) diartikan sebagai kurikulum atau program yang bertujuan
untuk mengajar orang tentang alam terutama tentang bagaimana kerja atau
fungsi sebuah ekosistem. Dalam sistem pendidikan barat yang telah
lebih dahulu memulai PLH, fokus yang utama dari pendidikan lingkungan
adalah untuk mengajarkan bagaimana manusia dan sistem-sistem yang
berhubungan dengannya memberikan dampak bagi lingkungannya dan
sistem-sistem yang terjadi di alam, dan sebaliknya bagaimana
sistem-sistem yang ada di alam mempengaruhi manusia dan sistem
kehidupannya. Pendidikan lingkungan seringkali dimaksudkan untuk
mengubah persepsi orang tentang nilai alam dan mengajar bangaimana
mengubah perilaku terhadap lingkungan, seperti mengajak orang untuk
mendaur ulang atau bagaimana membangun tempat tinggal yang ramah
lingkungan.
Yayasan Leuser Internasional
(YLI) telah diberi
mandat oleh Keputusan Presiden
33/1999 untuk mengelola
Kawasan Ekosistem Leuser. YLI
telah melaksanakan proyek
untuk konservasi yang
termasuk menciptakan kesadaran
tentang Ekosistem
Leuser dan kawasan lindung
lainnya. Melalui program
kesadaran (awareness),
YLI telah
melakukan beberapa kegiatan berkenaan dengan PLH yaitu merevisi dan
mensosilaisasikan Buku Ajar
Leuser tingkat SLTPdigunakan
sebagai mata pelajaran tambahan di sekolah-sekolah dimana para
pengajarnya diberikan pelatihan khusus tentang isi Buku Ajar tersebut.
Selanjutnya pembentukan Eco Club di
sekolah-sekolah juga menjadai salah satu alternative pendekatan bagi
masyarakat khususnya para siswa/I unutk lebih peduli dan mengenal
lingkungannya. Kegiatan Mobil Awarenss Unit adalah pendekatan yang
sangat baik terhadapa masyarakat untuk mendapatkan informasi secara umum
dan mengundang ketertarikan masyarakan tentang lingkungan di sekitarnya.
1.
Buku Ajar Leuser
Menindaklanjuti
Kesepakatan antara Yayasan Leuser Internasional bersama-sama dengan
Dinas Pendidikan dan Departemen Agama di Nanggroe Aceh Darussalam pada
akhir tahun 2006, tentang penggunaaan Buku Ajar Leuser sebagai supplemen
bagi Buku Pelajaran Kurikulum di sekolah-sekolah di Nanggroe Aceh
Darussalam, maka Yayasan Leuser Internasional dengan didanai oleh World
Bank melalui proyek AFEP telah mengadakan Pelatihan Awal Buku Ajar
Leuser untuk para guru tingkat SLTP di 13
kabupaten di Nanggroe Aceh Darussalam. Pelatihan ini berhasil menyeleksi
10 orang guru terbaik yang akan dijadikan fasilitator pada Pelatihan
Buku Ajar Leuser berkutnya, yang akan diadakan di 4 (empat) lokasi di
Nanggroe Aceh Darussalam.
Selanjutnya, mengikuti perkembangan situasi di KEL dimana maraknya
pemekaran kabupaten dan autonomi daerah di Aceh maka dirasa perlu untuk
merevisi Buku Ajar Leuser sehingga isi berupa gambar, informasi dan data
dapat lebih akurat. Untuk itu Yayasan Leuser Internasional
mencoba merevisi buku ajar tersebut dalam suatu kegiatan yang melibatkan
para guru-guru tingkat SLTP yang masuk dalam Kawasan Ekosistem Leuser
(KEL). Sejauh ini pelatihan, serta revisi Buku Ajar
Leuser telah melibatkan 469 guru SLTP di 13 kabupaten di propinsi Aceh.
Buku
Ajar Leuser
menunjukkan hubungan yang diperlukan antara
interaksi manusia dan
lingkungan dan efeknya
pada kelangsungan hidup. Hal ini juga
menghubungkan siswa dengan
alam dan memberi mereka
apresiasi yang lebih besar
terhadap lingkungan mereka,
agar generasi-generasi penerus kita bisa memahami arti pentingnya
menjaga lingkungan terutama hutan.
2.
Eco Club
Yayasan
Leuser Internasional berinisiatif untuk mengajak masyarakat khususnya
sekolah-sekolah di KEL untuk ikut serta dalam melindungi dan
melestarikan KEL, salah satunya adalah dengan cara membentuk suatu
group/club yang disebut Eco-Club yang berfungsi untuk mengenalkan dan
membudayakan kegiatan dan pengetahuan tentang lingkungan kepada
para anggotanya dimana kegiatannya nantinya mencakup kegiatan alam, dan
sosial lingkungan. Keanggotaan Eco-Club ini terdiri dari pelajar
SD, SLTP dan SMU
yang tertarik dengan konservasi lingkungan, tertarik untuk belajar
tentang alam, serta tertarik dengan kegiatan/kampanye lingkungan.
Eco-Club dikoordinir oleh seorang guru yang
tertarik dan memilki pengetahuan tentang alam/lingkungan. Koordinator
Eco Club adalah orang yang bertanggung jawab membuat club menjadi
dinamik, mengkoordinir pertemuan berkala dengan para anggotanya guna
menyiapkan kegiatan yang akan dilakukan. Berkordinasi dengan Eco Club
yang lain untuk melakukan kegiatan secara bersama-sama, serta
berkoordinasi dengan YLI untuk kegiatan besar yang mungkin dapat
mendapat bantuan dana dari YLI.
Setiap Eco Club bebas membuat sendiri kegiatannya,
bebas berinovasi dan berkreasi dalam memprioritasksan kegiatannya. Namun
demikian diharapkan dilakukan pertemuan paling sedikit sekali dalam satu
bulan.Kegiatan yang dilakukan sebaiknya berinteraksi dengan masyarakat
lokal dan dapat mendidik anggotanya. Misalnya dengan melakukan kegiatan
pendataan pohon-pohon di daerah tempat tinggal mereka, membedakan pohon
yang bernilai ekonomi atau berguna bagi ilmu pengetahuan/penelitian.
Identifiaksi burung-burung yang ada di sekitar mereka, kemudian membuat
database sesuai dengan penelitian yang mereka lakukan. Dapat pula
melakukan penelitaian langsung dengan mengambil contoh tumbuhan di
sekitar temapt tinggal atau sekolah, melakukan program kebersihan di
lingkungan sekitar, melakukan kampanye di masyarakat. Eco Club dengan
bantuan guru juga dapat melakukan kegiatan yang dapat memudahkan siswa
memahami pelajaran IPA/Sains/Biologi di sekolah a di sekolah. Eco Club
diharapkan juga dapat menerbitkan bulletin untuk mempublikasikan
kegitan-kegiatan mereka, dan apabila dana mencukupi dapat melakukan
perjalanan untuk kegiatan penelitian di sekitar hutan atau areal
konservasi.
Sejauh ini telah terbentuk 165
Eco Club di 165 sekolah dari tingkat SSD, SMP dan SMU di 13 kabupaten
dengan jumlah anggota sebanyak 8.384 siswa/i.
3.
Mobile Awareness Unit
Mobile
Awareness Unit bergerak dari satu desa ke desa yang lain, dari satu
sekolah ke sekolah yang lain dalam upaya sosialisai dan
menginformasikan kepada
masyarakat tentang lingkungan
dengan cara yang menarik,
melalui permainan, menonton
film, mendistribusikan dan membaca
buku atau komik.
Tim Unit
mobile akan datang dengan
pendekatan yang baik kepada
masyarakat dan kembali akan
dengan masukan dari
masyarakat untuk membuat
program yang lebih baik.
YLI bekerjasama dengan WCS mengunjungi sekolah dan desa,
menilai status saat ini dengan memanfaatkan Buku
Ajar Leuser, mempromosikan penggunaannya, mempromosikan dan
mempopulerkan eko-klub dengan kegiatan baru, menyebarkan materi
pendidikan dan kesadaran dan akan memfasilitasi anak-anak sekolah untuk
mengembangkan kampanye kesadaran mereka sendiri (seperti pertunjukan
boneka, sekolah teater, menulis puisi dll). Dalam setiap kunjungan
sekolah kita akan berusaha untuk memulai klub konservasi di sekolah jika
tidak didirikan sudah. Setelah setiap kunjungan desa / sekolah / acara,
tim CIMO akan mencoba untuk mengevaluasi dampak dari pendidikan dan
peningkatan kesadaran kegiatan oleh sebelum dan sesudah kuesioner atau
kuis. Langkah-langkah evaluasi tambahan juga dapat diimplementasikan.
Tim juga
mencoba untuk mengidentifikasi satu LSM lokal atau individu
yang potensial dari program lain yang tertarik
pada isu-isu lingkungan, sehingga mereka dapat dilatih di masa depan
sebagai rekan untuk konservasi.
LOKASI
Untuk dana AFEP, lokasi
Implementasi program adalah di Kawasan Ekosistem Leuser di propinsi
Aceh, yaitu 13 kabupaten mencakup : Aceh Tamiang, Aceh Timur, Aceh
Utara, Bener Meriah, Aceh Tengah, Kodya Subulussalam, Aceh Selatan, Aceh
Singkil, Aceh Tenggara, Gayo Lues, Aceh Barat, Aceh Barat Daya, dan
Nagan Raya.
Sedangkan untuk dana ExxonMobil, lokasi implementasi program adalah desa
Aras Napal, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara.
TARGET
Masyarakat pada umumnya dana anak-anak di tingkat Sekolah Dasar, Sekolah
Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, serta Mahasiswa pada khususnya,
yang tingaal di kawasan Ekosistem Leuser.
OUTCOME
1.
Meningkatnya pengetahuan masyarakat
tentang pentingnya menajga lingkungan/hutan
2.
Meningkatnya
kemampuan belajar mengajar bagi guru dan siswa/i
dengan teknik-teknik yang baru dalam bidang lingkungan.
3.
Siswa
dapat berbagi ilmu tentang alam dan lebih berwawasan lingkungan,
sehingga dalam kesehariannya mereka akan selalu menjaga dan
melestarikan
lingkungan alam/hutan di sekitar tempat tinggal mereka, khususnya
Kawasan Ekosistem Leuser.
MITRA
Dalam kaitannya dengan implementasi Buku
Ajar Leuser, YLI bekerjasama dengan Dinas Pendidikan dan Departemen
Agama tingkat kabupaten dan propinsi Aceh, serta Lembaga Penjamin Mutu
Pendidikan (LPMP) Aceh. Sedangkan kegiatan Eco Club, YLI didukung
penuh oleh amsing-masing sekolah dalam kaitannya dengan kegiatan
ekstrakurikuler. Mobile Awareness Unit dalam pelaksanaannya bekerjasama
dengan tim Mobile Awareness NGO WCS (Wildlife Conservation Society). YLI
mengggunakan fasilitas WCS termasuk mobil van, screen dan perlengkapan
lainnya.

|